Upaya revitalisasi kawasan transmigrasi di bawah dukungan Kementerian Transmigrasi RI memasuki tahap penting. Tim Ekspedisi Patriot dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), yang berkolaborasi dengan tim dari Fakultas Kedokteran UI (FK UI), merampungkan riset intensif selama empat bulan di Kawasan Transmigrasi Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau. Tim yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan alumni ini menghadirkan pendekatan multidisipliner, dari aspek lingkungan dan sosial hingga kesehatan masyarakat.
Puncak kegiatan berlangsung pada 1 Desember 2025 dengan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendiseminasikan temuan lapangan di Aula Setda Kabupaten Lamandau. Kegiatan ini dihadiri pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, serta perwakilan transmigran. FGD ini memaparkan dua output penting: Evaluasi Kawasan Transmigrasi dan Desain Pengembangan Komoditas Unggulan untuk enam Satuan Kawasan Permukiman (SKP). Rekomendasi ini menekankan urgensi pembenahan struktur produksi, peningkatan branding komoditas unggul lokal, serta penguatan rantai nilai (value chain) komoditas di Kawasan Transmigrasi Belantikan Raya. (value chain) komoditas di Kawasan Transmigrasi Belantikan Raya.
Asisten Administrasi Perekonomian Pembangunan dan SDA Kabupaten Lamandau, Dr. Meigo, S.Pd., M.Si., yang membuka acara, menegaskan pentingnya riset berbasis data sebagai fondasi kebijakan.
“Kita memerlukan masukan, validasi data, dan sumbang saran yang konstruktif. Data yang baik harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang baik dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Dr. Meigo saat membacakan sambutan Bupati.
Tim UI melaporkan bahwa serangan hama masih sering mengganggu tanaman kopi petani sehingga produktivitas rata-rata baru mencapai 0,3-0,4 ton/ha, jauh dari potensi optimal robusta yang dapat menembus 0,8 ton/ha. Selain kopi, tim juga mengidentifikasi potensi padi, durian, dan semangka sebagai komoditas diversifikasi.
Ketua Tim Output 2, Iqbal Putut Ash Shidiq, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa rekomendasi bersifat iteratif dan terbuka terhadap masukan daerah.
“Kami ingin memastikan rekomendasi ini tepat guna, tidak berhenti pada dokumen, dan dapat langsung diterapkan oleh pemerintah serta masyarakat.” kata Iqbal.
Anggota Tim Output 2, Nur Auliya Musrah, M.Si, menambahkan bahwa banyak potensi komoditas lokal yang perlu dikembangkan untuk mengembangkan perekonomian masyarakat.
“Di lapangan, tim menemukan komoditas padi lokal di SKP C yang memiliki banyak permintaan, salah satunya pada saat rangkaian Lamandau Expo. Padi tersebut ditanam secara alami tanpa sentuhan pupuk maupun pestisida yang memiliki keunggulan khusus seperti aroma yang wangi dengan bulir yang berukuran kecil”

Kepala Dinas Nakertrans Lamandau, Atie Dieni, S.Sos., M.A.P., menegaskan bahwa Pemda menetapkan kopi robusta sebagai komoditas prioritas.
“Kopi harus tetap menjadi komoditas berkelanjutan dan prioritas utama. Kita mendapatkan dukungan APBN untuk pengadaan bibit unggul, ditambah komitmen dari offtaker industri besar,” tegasnya.
Saat ini terdapat offtaker nasional yang siap menyerap produksi jika kualitas dan volume memenuhi standar, membuka peluang peningkatan pendapatan petani hingga 30–40%.
Ketua Tim Output 1, Dr. Med. dr. Nyityasmono Tri Nugroho, Sp.B, Subsp. BVE (K), berharap kajian ini memberi “warna baru” dalam transformasi transmigrasi modern yang lebih produktif.
Selain pemerintah dan akademisi, perwakilan petani turut menyampaikan kebutuhan mereka.
“Saya berharap ada pendampingan produksi hingga pemasaran dan bantuan pupuk,” ujar Purwanto, petani kopi di SKP A.
Keluhan utama petani mencakup sulitnya akses jalan kebun yang hingga kini masih belum memadai, terbatasnya jumlah penyuluh lapangan yang dapat mendampingi mereka secara rutin, serta harga jual kopi yang kerap fluktuatif akibat panjangnya rantai pasok. Di sisi lain, Tim UI menyoroti sejumlah hambatan teknis yang harus segera ditangani agar rekomendasi dapat berjalan efektif, mulai dari kondisi jalan rusak yang memperlambat logistik, ketiadaan sentra pasca panen seperti seperti solar dryer untuk pengeringan kopi, hingga belum adanya standar mutu atau grade. Tanpa perbaikan infrastruktur dasar, potensi komoditas unggul dinilai sulit mencapai skala ekonomi yang layak.
Pengembangan kopi Lamandau sejalan dengan strategi nasional Kementerian Transmigrasi dan agenda komoditas bernilai tambah sebagai mesin pertumbuhan ekonomi daerah. Tren konsumsi kopi nasional yang terus naik 7–8% per tahun membuka peluang besar bagi transmigran sebagai produsen baru.
Selain itu, pengembangan kopi sejalan dengan agenda green economy melalui agroforestri, yang membantu menjaga tutupan hutan Belantikan Raya yang merupakan salah satu bentang alam vital di Kalimantan Tengah.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Daerah dan institusi akademik dalam merancang masa depan kawasan transmigrasi berbasis riset. Namun, Pemda menilai perlunya perhatian berkelanjutan dari pemerintah pusat, terutama dalam percepatan pembangunan jalan produksi dan logistik, penguatan pelatihan SDM secara berkala, serta dukungan hilirisasi agar petani tidak hanya menjual biji mentah. Dengan dukungan berlapis tersebut, tujuh SKP di Lamandau diharapkan dapat mencapai kemandirian ekonomi berbasis komoditas unggulan dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Adapun tim yang terlibat dalam kegiatan ini terbagi menjadi dua kelompok. Tim Output 2 yang menangani Desain Pengembangan Komoditas Unggulan Spesifik diketuai oleh Iqbal Putut Ash Shidiq, M.Sc., Ph.D., dengan anggota Nur Auliya Musrah, S.Pd., M.Si., Intan Lestari, S.Si., Muhammad Annas Fathoni, serta Ahmad Faiz Marzuqy. Sementara Tim Output 1 yang menangani Rekomendasi Evaluasi Kawasan Transmigrasi diketuai oleh Dr. Med. dr. Nyityasmono Tri Nugroho, Sp.B, Subsp. BVE (K) dari FK UI, dengan anggota dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS, MS, Sp.KKLP, Ph.D., Amelia Insan Pratiwi, S.Si., Genta Aulia Ramadhan, MT., Muhammad Rafi’ Putra Agustian, dan Elfis Metkono.


