Ini merupakan kelanjutan dari Pelatihan Pengukuran Karbon Biru, yang merupakan bagian dari Proyek Konservasi Dugong dan Lamun (DSCP) di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut bersama dengan Pusat Penelitian Kelautan-Kementerian Kelautan dan Perikanan; Pusat Penelitian Oseanografi (P2O-LIPI), Fakultas Kelautan dan Perikanan-IPB serta WWF-Indonesia. Pelatihan ini diselenggarakan dalam dua bagian, yang pertama di Pusat Penelitian Kelautan (P2O-LIPI) Jakarta Utara pada tanggal 16th dan 17th 2018, and the rest was in Pari Island, Seribu Islands-Jakarta on October 18th and 19th 2018. The project had invited so many stakeholders, like governments, academicians, NGOs also business people.
Koordinator Pelatihan dan Manajemen Pusat Studi Kelautan FMIPA UI, Fika Afriyani, turut berpartisipasi dalam proyek ini sebagai salah satu representasi akademisi. Pusat Studi Kelautan berperan memberikan pelatihan pendidikan dasar tidak hanya bagi mahasiswa Universitas Indonesia, khususnya di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, tetapi juga bagi mahasiswa fakultas lain melalui Program Kepemudaan. Program Kepemudaan merupakan program tahunan dari Pusat Studi Kelautan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan konservasi bagi generasi muda (usia 10-17 tahun).
Masih kurangnya informasi atau pengetahuan dari warga tentang Dugong. Bahkan terkadang umum untuk mengetahui bahwa Dugong dapat dimakan, sama seperti hewan laut lainnya. Jadi penting untuk mengetahui dan menyebarkan informasi tentang Dugong dan habitatnya, untuk meningkatkan kesadaran dari warga karena status Dugong sudah ada di Daftar Merah Spesies Terancam IUCN. Hal pertama yang perlu kita ketahui untuk melindungi Dugong adalah melestarikan padang lamun sebagai habitatnya untuk makan. Lamun dikenal sebagai makanan utama Dugong. Proyek Dugong ini difokuskan pada pelatihan struktur komunitas lamun dan juga bagaimana melacak keberadaan Dugong dengan tidak hanya mengetahui jalur makan, tetapi juga dengan melakukan wawancara dengan penduduk desa yang tinggal di sekitar wilayah pesisir dan dengan melakukan pemetaan.
Menyelamatkan Dugong penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem, karena jika satu di antaranya hilang dari ekosistem, akan terjadi masalah dalam rantai makanan. Baik Dugong maupun manusia adalah mamalia dan memiliki peran dalam rantai makanan. Keseimbangan peran setiap populasi sangat penting untuk diselamatkan.


