Implementasi CITES untuk Identifikasi Hiu dan Pari dengan Teknik DNA dalam Perdagangan dan Ketertelusuran

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UI telah bergabung pada ‘Bimbingan Teknis Penerapan CITES untuk Hiu dan Pari: Teknik Identifikasi Spesies untuk Perdagangan dan Ketertelusurannya’,
yang dipersembahkan oleh Wildlife Conservation Society (WCS) dan Direktorat Jenderal Kelautan
Manajemen, Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia pada tanggal 27-29 November 2018 berlokasi di Muara
Baru, North Jakarta.

Sejak Februari 2003, Hiu dan Pari sudah termasuk dalam
Lampiran II tidak selalu terancam punah, namun perdagangannya dikontrol untuk menghindari
pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kelangsungan hidup mereka. Hingga Oktober 2016, terdapat dua belas spesies hiu dan semua pari manta
dan pari setan (yang termasuk dalam subkelas yang sama Elasmobranchii) dimasukkan dalam Lampiran II, dan tidak ada
dalam Lampiran I. Namun, semua spesies ikan pari gergaji (yang juga termasuk dalam subkelas Elasmobranchii)
dalam Lampiran I (Sumber: CITES).

Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan orang-orang yang bekerja di pemerintahan yang secara langsung
involve in the chain of sharks and rays trade to implement CITES regulation. Another stakeholder were
berasal dari lembaga penelitian dan universitas juga menginformasikan untuk mengetahui tentang morfologi visual dan DNA
identifikasi teknik. Dr. Rima Jabado (Proyek Gulf Elasmo), Diego Cardenosa M. Sc. (Stony
Brook University), Adeline Seah, Ph. D (WCS), Daniel Fernando (Linnaeus University) were the experts
yang memberikan informasi tentang cara mengidentifikasi hiu dan pari berdasarkan keahlian mereka. Stan Shea dari Bloom
Asosiasi Hong Kong juga berpartisipasi sebagai salah satu narasumber yang menjelaskan tentang bagaimana hiu
perdagangan terutama karena hampir semua ketertelusuran perdagangan hiu diekspor ke Hong Kong.

Mereka diperlihatkan ribuan potongan sirip hiu dan potongan-potongan produk di gudang yang
They were shown of thousand pieces of shark fins and chunks as the products in the warehouse which
siap untuk diekspor ke luar negeri seperti Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, dan Thailand. Sesuai dengan judul lokakarya ini,
tentang identifikasi dengan Teknik DNA, Diego dan Adeline menunjukkan kepada peserta bagaimana
mengidentifikasi produk dengan mengambil sampel DNA di gudang. Mereka menunjukkan metode sederhana seperti
semua orang bisa melakukannya di lapangan, sementara Rima juga menunjukkan cara mengidentifikasi berdasarkan visual
sirip dan bongkahannya, yang hampir semuanya sudah tanpa kepala.

Dari pelatihan ini diharapkan peserta mampu mengidentifikasi hiu dan pari secara visual maupun
secara molekuler. Mungkin juga ada beberapa penelitian antar institusi dari para peserta untuk dilakukan
secara molekuler. Mungkin juga ada beberapa penelitian antar institusi dari para peserta untuk dilakukan

Bagikan ini:

Facebook
LinkedIn
X
Pinterest
WhatsApp
Telegram