Inovasi Doktor FMIPA UI: Daun Pucuk Merah, Tanaman Cantik yang Jadi Obat Herbal Alami

Depok, 8 Januari 2026 – Daun pucuk merah (Syzygium myrtifolium), yang selama ini dikenal sebagai tanaman hias karena warna daunnya yang menawan, kini menunjukkan potensi luar biasa sebagai sumber obat herbal berbasis metabolit sekunder, khususnya agen antimikrob alami. Temuan ini dipaparkan oleh Vilya Syafriana dalam sidang terbuka promosi doktor program studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, pada Kamis (8/1) di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, Depok.

Melalui disertasi berjudul ‘Eksplorasi dan Kajian Metabolomik Tanaman Pucuk Merah (Syzygium myrtifolium) sebagai Sumber Bahan Baku Agen Antimikrob’, Vilya memaparkan hasil penelitiannya yang dilakukan dengan pendekatan terintegrasi, mulai dari karakterisasi bahan baku, optimasi ekstraksi, uji aktivitas antimikrob, analisis pengaruh lokasi tumbuh, hingga kajian metabolomik menggunakan Liquid Chromatography–Mass Spectrometry (LC-MS) — sebuah metode analisis modern untuk mendeteksi kandungan kimia tanaman secara rinci. Atas penelitian ini, Vilya berhasil meraih predikat Cum Laude.

“Penelitian ini mengungkap potensi besar Syzygium myrtifolium sebagai sumber bahan baku obat herbal berbasis metabolit sekunder, khususnya sebagai agen antimikrob alami,” ujar Vilya di hadapan tim penguji.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perkembangan daun—muda maupun dewasa—mempengaruhi sifat fisikokimia, komposisi metabolit, dan aktivitas antimikrob daun pucuk merah. Ekstraksi dengan etanol menghasilkan rendemen tertinggi, sementara etil asetat lebih efektif mengekstraksi senyawa flavonoid. Aktivitas antimikrob daun pucuk merah terbukti lebih efektif terhadap bakteri Gram-positif dibanding Gram-negatif. Meski lokasi tumbuh memengaruhi bioaktivitas, tahap perkembangan daun memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap profil metabolit.

Daun muda kaya flavonoid, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen antimikrobial dan antioksidan untuk pangan fungsional, suplemen kesehatan, vitamin, maupun kosmetik. Sementara daun dewasa mengandung lebih banyak triterpenoid, membuka peluang eksplorasi aktivitas biologis tambahan, termasuk sebagai kandidat senyawa antikanker.

Selain membuka peluang pemanfaatan spesifik bagian tanaman, penelitian ini juga memperkuat potensi genus Syzygium—yang terdiri dari 1.200–1.800 spesies dan tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia—sebagai sumber penting tanaman obat.

“Penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam pengembangan obat herbal nasional berbasis sains, berdaya saing, dan mendukung pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan,” tambah Vilya.

Sidang terbuka dipimpin oleh Dekan FMIPA UI, Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si., dengan promotor Dr. rer. nat. Yasman, S.Si., M.Sc., dan ko-promotor Dr. Windri Handayani, S.Si., M.Si. serta Dr. Fitrianingsih, S.Si., M.Eng. Tim penguji terdiri atas Dr. Dra. Ratna Yuniati, M.Si., Dr. Dra. Andi Salamah (Departemen Biologi FMIPA UI), Prof. Dr. apt. Berna Elya, M.Si. (Fakultas Farmasi UI), dan Prof. Dr. Nancy Dewi Yuliana, S.TP. (Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB).

Bagikan ini:

Facebook
LinkedIn
X
Pinterest
WhatsApp
Telegram