Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui Badan Konseling Mahasiswa (BKM) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Evaluasi Layanan Konseling Tahun 2025 pada Jumat (25/7), bertempat di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, Kampus UI Depok. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen FMIPA UI dalam memperkuat kesejahteraan psikologis mahasiswa serta membangun lingkungan akademik yang sehat dan suportif.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menyosialisasikan peran dan layanan BKM, tetapi juga mengevaluasi capaian kinerja serta tantangan yang dihadapi dalam proses pendampingan psikologis mahasiswa. Selain itu, acara ini menjadi momen penting dalam memperkenalkan jajaran tim konselor BKM tahun 2025, yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai program studi.
Dekan FMIPA UI, Prof. Dede Djuhana, Ph.D., dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran layanan konseling dalam mendukung kelangsungan studi mahasiswa. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara aspek akademik dan kesejahteraan mental menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik.
“Kami percaya bahwa ekosistem pendidikan yang sehat tidak hanya dibangun dari sisi akademik, tetapi juga dari perhatian terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa. Melalui BKM, kami ingin hadir lebih dekat dan lebih peka terhadap kebutuhan mereka,” ujar Prof. Dede.
Ia menambahkan, “Di era sekarang ini, kita perlu memiliki bekal mental, baik secara lahir maupun batin agar dapat menjalani perkuliahan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana harapan kita semua, termasuk para orang tua mahasiswa. Dengan berbagai disrupsi yang terjadi saat ini, maka keberadaan BKM yang berkolaborasi lintas unit menjadi semakin penting.”
Sejak diluncurkan pada 2022, BKM FMIPA UI telah menjadi garda depan dalam menyediakan layanan pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik maupun persoalan pribadi. Inisiatif ini lahir sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan dukungan psikologis pasca pandemi COVID-19.
Senada dengan Dekan, Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. rer. nat. Budiawan, juga menyoroti pentingnya ruang pendampingan emosional dalam ekosistem akademik.
“Dalam aktivitas akademik, kita sering kali hanya fokus pada target dan capaian, tanpa menyadari beban psikologis yang menyertai proses tersebut. Di bidang kemahasiswaan, kami sering menjumpai tantangan seperti meningkatnya stres akibat tekanan akademik, kecemasan menjelang ujian, kesulitan manajemen waktu, hingga perasaan terisolasi di tengah lingkungan kampus yang kompetitif,” jelas Prof. Budiawan.
Ia menambahkan, “Jika otak kiri kita digunakan untuk berpikir analitis dan logis, maka otak kanan kita pun perlu ruang untuk menyeimbangkan aspek emosional dan empatik.”
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum, Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si., menyatakan komitmennya dalam mendukung aspek logistik dan pendanaan program BKM.
“Kami memastikan dukungan yang memadai dari sisi fasilitas konseling yang nyaman, sistem administrasi yang efisien, hingga alokasi anggaran yang proporsional. Selain itu, kami juga mendorong integrasi layanan BKM dengan sistem informasi digital fakultas agar akses mahasiswa semakin mudah,” ungkapnya.
Manajer Kemahasiswaan FMIPA UI, Prof. Dr. Dewi Susiloningtyas, S.Si., M.Si., dalam paparannya menegaskan bahwa keberadaan BKM bukan hanya sekadar program pendampingan, melainkan bagian dari strategi institusional untuk mendukung kesejahteraan mahasiswa secara menyeluruh.
“BKM hadir untuk mendampingi, membantu, dan memberdayakan mahasiswa dalam menghadapi tekanan akademik maupun persoalan pribadi secara profesional dan terstruktur. Ini adalah representasi dari komitmen institusi terhadap mahasiswa,” ujar Prof. Dewi.
Ia juga menguraikan batasan peran konselor BKM, seperti terbatas pada masalah psikologis ringan, memiliki durasi waktu tertentu, serta tidak memberikan intervensi medis atau diagnosis klinis. BKM juga tidak diperkenankan digunakan sebagai alasan untuk menghindari evaluasi akademik.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa BKM bukan tempat untuk mencari rekomendasi cuti atau menghindar dari evaluasi. Kami hadir untuk mendukung mereka tetap melanjutkan studi dengan sehat dan seimbang,” tegasnya.
Acara dilanjutkan dengan pemaparan dari Nina Marliyani, M.Si., konselor FMIPA UI, yang mengangkat materi “Strategi Efektif Menghadapi Tantangan Perkuliahan”, serta sesi tanya jawab interaktif bersama mahasiswa yang dipandu oleh Yazid Al Muntashir, S.Si. dari Staf Kemahasiswaan FMIPA UI.
Salah satu sesi krusial adalah pemaparan dari para dosen konselor lintas program studi, yakni Dra. Siti Aminah, M.Kom (Matematika); Dr. Akbar Azzi, M.Si. (Fisika); Dr. Sri Handayani, M.Biomed. (Kimia); Dr. Mazytha Kinanti Rachmania, M.Si. (Biologi); Pranda Mulya Putra Garniwa, Ph.D. (Geografi); dan Ayunda Aulia Valenci, M.T. (Geosanis). Mereka membagikan pengalaman dalam mendampingi mahasiswa dan dinamika yang dihadapi sebagai dosen konselor.
Acara ditutup dengan diskusi internal evaluasi bersama Tim Konselor BKM 2025, membahas efektivitas program, promosi layanan, dan tindak lanjut dari masukan mahasiswa.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh para Ketua Departemen, Ketua Program Studi, dan Kepala Unit lainnya. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan institusional terhadap layanan konseling yang responsif dan berkelanjutan.


