Penginderaan Jauh dan Kecerdasan Buatan Untuk Kelestarian Hutan Indonesia

Depok, 25 Juni 2025. Indonesia, sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati global yang luar biasa, menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan kebakaran hutan. Namun, Prof. Dr. Rokhmatuloh., S.Si., M.Eng., optimistis dengan tren positif dalam pemulihan hutan berkat kebijakan, seperti perhutanan sosial dan program pengelolaan hutan. Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+), yang menunjukkan komitmen pemerintah dan masyarakat.

Beliau menekankan pentingnya hutan multifungsi Indonesia, tidak hanya sebagai pengatur iklim dan pusat keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai sumber daya ekonomi yang melimpah. Potensi hasil hutan kayu dan non-kayu sangat besar, mulai dari komoditas ekspor unggulan hingga produk bernilai tinggi bagi masyarakat adat. Namun, potensi ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika hutan dikelola secara lestari. Di sinilah penginderaan jauh memainkan peran penting, mendukung pengelolaan hutan berbasis bukti (pengelolaan hutan berbasis bukti).

Di era industri 4.0, integrasi penginderaan jauh dengan kecerdasan buatan (AI), pembelajaran mesin (Pembelajaran Mesin – ML), dan komputasi awan adalah kuncinya. Kemajuan ini memungkinkan analisis data yang cepat, otomatis, dan akurat, serta memfasilitasi penggunaan drone untuk akuisisi citra resolusi tinggi yang fleksibel dan hemat biaya. Secara keseluruhan, penginderaan jauh telah menjadi fondasi penting bagi pengelolaan kehutanan modern, mendukung pembuatan kebijakan berbasis data, dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan sumber daya alam.

Selain itu, pemanfaatan big data dan AI telah merevolusi analisis data penginderaan jauh di bidang kehutanan. Volume data yang besar dan kompleks dari satelit optik, radar, drone, dan LiDAR, dapat diolah secara efisien dengan sistem komputasi canggih. Keunggulan AI dalam analisis otomatis meningkatkan akurasi pemetaan dan pemantauan hutan secara real-time. komputasi awan seperti Google Earth Engine (GEE), yang menyediakan akses ke ribuan petabyte data satelit, memungkinkan analisis lintas waktu dan wilayah secara efisien, mendukung komunitas ilmiah dan pembuat kebijakan.

Lebih lanjut, kombinasi big data dan ML tidak hanya mempercepat pemrosesan data, tetapi juga memungkinkan pemodelan prediktif. Ini sangat mendukung perencanaan kehutanan berbasis proyeksi, seperti estimasi stok karbon, pertumbuhan pohon, dan habitat satwa. Pembelajaran Mendalam (DL) pada pengolahan data penginderaan jauh di bidang kehutanan, terutama dengan algoritma Jaringan Saraf Konvolusional (CNN), mampu melakukan klasifikasi tutupan lahan, deteksi perubahan hutan, dan pemetaan spesies vegetasi dengan akurasi tinggi.

Prof. Rokhmatuloh juga menyoroti aplikasi DL yang lebih jauh, termasuk deteksi deforestasi otomatis menggunakan data deret waktu dan penggunaan U-Net untuk memetakan batas hutan dan mengidentifikasi regenerasi vegetasi pascakebakaran. Platform seperti GEE semakin memudahkan integrasi data besar dari penginderaan jauh dengan model DL, memungkinkan analisis skala besar untuk mendukung konservasi dan pengelolaan hutan lestari di Indonesia.

Dalam pidato pengukuhannya di Ruang Sidang UI Depok pada hari Rabu (25 Juni), Prof. Rokhmatuloh menekankan bahwa manfaat penginderaan jauh dalam kehutanan Indonesia tidak hanya sebagai alat pemantauan dan pelaporan, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam penegakan hukum, perencanaan kehutanan, dan mitigasi perubahan iklim. Pemanfaatan data besar dan pembelajaran mendalam telah membuka paradigma baru dalam pengelolaan hutan lestari, menyediakan sistem analisis yang cepat, adaptif, dan presisi tinggi. Hal ini mendukung pembuatan kebijakan yang… waktu nyata dan prediktif, yang sangat penting bagi upaya pengelolaan hutan lestari di Indonesia. Sebelum dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-33 di UI pada tahun 2025, Prof. Rokhmatuloh menyelesaikan pendidikan sarjananya di Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di UI pada tahun 1996. Kemudian beliau menyelesaikan program Magister dan Doktor di Chiba University, Jepang, masing-masing pada tahun 2004 dan 2007. Hadir dalam upacara pengukuhannya adalah Kepala Badan Informasi Geospasial Prof. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc.; Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Kemahasiswaan, Fakultas Geografi, UGM Dr. Sigit Heru Murti B.S. S.Si. M.Si.; Direktur Sumber Daya Manusia Badan Informasi Geospasial Dr. nat Sumaryono, M.Sc.; CEO Golden Energy Mines (Sinarmas Group) Dr. Ir. Hartana, S.H, M.H, M.M.; dan Dosen Tetap UNHAN, Dokter Spesialis Obsgyn RSPAD Gatot Soebroto Mayjen TNI Dr. dr. Sutan Finekri Arifin A, Sp.OG., Subsp.K.FM., M.A.R.S., M.H.

Bagikan ini:

Facebook
LinkedIn
X
Pinterest
WhatsApp
Telegram